BREKING NEWS

DI SUNTIK MATI KARENA GANCET

Terkadang kita selalu meremehkan prasejarah. Padahal sejarah terukir dari kisah yang melegenda. Banyak orang tidak menghargainya, menurut mereka itu hanya cerita dongeng semata. Alhasil karena meremehkan malah berujung petakan.
Akhirnya apa yang di khawatirkan oleh Emak, terjadi. Kami akan melanjutkan pendakian hanya bertiga saja, itu berarti dalam bilangan ganjil.
"Maaf, saya harus pulang dulu. Barusan istri kirim pesan lewat SMS. Ada urusan mendadak, yang mengharuskan kehadiran saya. Kalian lanjut saja lebih dahulu, seberes urusan saya akan menyusul." Bang Roy nampak tergesa-gesa, sepertinya ada sesuatu yang penting telah menantinya di rumah.
Sebelum benar-benar berlalu, Bang Roy kembali mengingatkanku, agar tidak membiarkan Tonny dan Tina berduaan saja. Sepertinya dia mengkhawatirkan Tonny akan berbuat yang tidak baik. Bukan tanpa alasan, memang sepanjang perjalanan kedua sahabatku itu, selalu bertingkah romantis selayaknya sepasang suami istri.
"Bagaimana teman-teman, apakah kita lanjut, atau kita pulang bersama Bang Roy?" tanyaku pada Tonny dan Tina.
"Kita tetap lanjut. Tapi sebelum itu, sebaiknya kita makan dulu," jawab Tonny sembari menepuk-nepuk perutnya.
Berhubung tadi kami berangkatnya agak kesiangan. Lagipula jadwal makan di waktu tengah hari telah tiba, kami akhirnya memutuskan untuk mengisi amunisi di gerbang rimba ini.
Makanan sederhana yang dimasak oleh istrinya Bang Roy, terasa sangat lezat di tenggorokan.
Di sini, Tonny dan Tina kembali mengabaikan keberadaanku. Mereka makan bersuap-suapan, setelah itu berfoto-foto dengan mesranya. Sesuai amanah dari Bang Roy. Aku pun mengingatkan keduanya, agar tetap menjaga batas kewajaran, karena bukan tidak mungkin penghuni tak kasat mata di gunung ini marah.
Namun bukannya mendengarkan, keduanya malah menertawakanku. Apalagi Tonny, dia sampai tega mengatakan bahwa itu adalah alasanku yang iri dengan kemesraan mereka. Ironisnya dia juga memperingatkanku, agar jangan terlalu dalam mencampuri urusannya.
Tanpa kami sadari, dari sinilah awal petaka itu. Aku memilih diam, daripada harus beradu argumen dengannya.
Tonny memang keras kepala. Mungkin karena mempunyai segalanya, ia memiliki sifat kecongkakan hati. Tapi walaupun begitu, dia adalah teman terbaikku. Buktinya, persahabatan kami masih tetap terjalin sampai saat ini. Aku hanya sedikit kecewa dengan sikapnya, tapi itu bukanlah alasan untukku membencinya.
Setelah selesai makan siang dan sedikit beristirahat, kami memulai pendakian yang sesungguhnya.
Gunung Dempo memang unik. Dari selter satu menuju dua, kami diperlihatkan tulisan Asmaul Husnah. Sepertinya, plang yang menempel di pohon-pohon ini adalah pengukur jarak menuju puncak.
Kali ini, sepanjang perjalanan kami harus berjalan dengan cara membungkukkan badan, hingga rasanya lutut ingin menyentuh jidat.
Sudah hampir satu jam lebih pendakian, kami belum juga sampai ke pos dua. Karena rasa lelah pun mulai menyergap, kita akhirnya mencari tempat untuk beristirahat sejenak.
Jam menunjukkan pukul dua siang. Waktu dimana hari seharusnya masih terang, tapi kabut membuatnya nampak gelap. Di sela-sela peristirahatan, terdengar suara gemuruh dari atas langit. Aku hanya berharap semoga tidak turun hujan, karena jika mendengar penuturan Bang Roy tadi malam, di depan sana medan semakin sulit.
"Teman-teman, sebaiknya sudahi peristirahatan ini. Kita harus melanjutkan pendakian agar segera tiba di pos dua. Nampaknya hujan akan turun, tentu itu akan membuat treknya semakin sulit," ujarku.
"Iya, itu lebih baik, sebelum Medan pindah ke Sumatera Selatan," jawab Tonny.
Candaan Tonny membuat kami tertawa terbahak-bahak. Kali ini dia berhasil mencairkan suasana, yang tadinya mulai menegang akibat ego masing-masing.
"Maafkan perkataanku tadi kawan. Aku tahu, kamu pasti tersinggung," ujar Tonny sembari menepuk punggungku.
"Akh, biasa aja. Aku tidak merasa tersinggung," jawabku.
"Kita berteman dari kecil, aku cukup mengenali karaktermu kawan ..., maafkan aku," pungkas Tonny sembari membentangkan kedua tangannya.
Aku pun memeluknya, lalu kemudian berkata,
"Aku sudah memaafkan, jauh sebelum kamu meminta maaf."
"Semangat menuju puncak!" potong Tina penuh semangat, sembari mengacungkan lengan ke langit dengan telapak tangan yang tergenggam.
Kami pun segera melanjutkan pendakian. Dimulai dengan Tonny berjalan paling depan, sementara Tina di tengah, dan aku berada di belakang. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini kami melanjutkan perjalanan penuh semangat.
Namun tidak lama, pendakian kami terhentikan oleh hujan yang mulai turun rintik-rintik. Kami memutuskan berhenti sejenak untuk memakai jas hujan. Sudah tidak bisa dihindari, medan terasa lebih sulit, jalan basah membuat trek bebatuan ini menjadi sangat licin.
"Kita harus tetap melanjutkan perjalanan. Semoga kita sampai di pos dua sebelum hari benar-benar gelap," ujarku kepada Tonny dan Tina.
Begitulah alam, tidak bisa diprediksi. Sekitar 10 menit pendakian, hujan pun reda. Tapi sekarang kami harus berpacu melawan kabut. Saat itu juga, sayup-sayup terdengar suara azan ashar, yang kadang terdengar, kadang tidak. Aku mengajak Tonny dan Tina berhenti sejenak. Setidaknya, walau tidak melaksanakan salat kita harus menghormati kaum muslim yang sedang beribadah. Sembari melepaskan jas hujan yang kami kenakan.
Setelah menghormati suara azan, kami melanjutkan pendakian kembali. Masih dalam formasi yang sama, Tonny di depan, diikuti Tina di tengah, sedangkan aku berada di paling belakang.
Pasca hujan trek menjadi lebih licin. Kami melakukan pendakian dengan sangat hati-hati. Apalagi di sisi kiri terdapat jurang yang lumayan terjal.
Kami harus meniti trek di sela-sela pepohonan yang tumbang, hal itu membuat perjalanan melambat. Apalagi pasca hujan sudah dapat dibayangkan, betapa licinnya jalur ini setelah diguyur hujan.
Trek yang berat sangat menguras tenaga, walau demikian kami tetap melanjutkan pendakian tanpa beristirahat. Meskipun, hal itu membuat posisi kami berjarak lumayan jauh.
Sekitar satu jam perjalanan, Indera penciuman seolah menangkap aroma yang tidak biasa. Jujur, di sini bulu romaku meremang. Merinding sudah tidak bisa dihindari.
Sebenarnya aku ingin mempertanyakan prihal penciumanku kepada Tonny dan Tina. Tapi aku takut hal itu malah membuat suasana menjadi tegang. Namun ternyata Tina juga merasakan hal yang sama.
"Kalian mencium aroma wewangian tidak?" tanya Tina.
Aku dan Tonny menghentikan langkah. Keheningan terjadi, pandangan kami tidak henti-hentinya mengedar kesemua sudut hutan belantara ini.
"Akh, itu aroma kembang teh," ujar Tonny.
Entahlah, benar atau tidak apa yang dikatakan Tonny. Sebenarnya aku meragukan hal itu, tapi mungkin ada benarnya apa yang ia katakan. Karena memang kalau urusan teh, pengetahuan Tonny lebih unggul dibandingkan aku dan Tina, soalnya hampir setiap liburan sekolah dia berkunjung ke Pagaralam.
"Nah, itu pohon teh nya," sambung Tonny sambil menunjuk ke arah pohon yang lumayan besar di ujung jalan, di depan sana.
"Lah, aku pikir itu pohon biasa," ujar Tina.
Sebenarnya pikiranku sama seperti Tina, karena yang aku tahu tentang pohon teh hanyalah setinggi pinggang.
"Iya, ini pohon teh. Sebenarnya beberapa tahun lalu aku pernah mendaki ke gunung ini, tapi tidak sampai puncak. Soalnya waktu itu, pas sampai ke pos dua aku mendadak sakit. Waktu itu Bang Roy menjelaskan bahwa pohon teh ini dulunya ditanam oleh Belanda, dan ini adalah batas terakhir kebunnya. Jadi wajar saja jika ukurannya lumayan besar," jelas Tonny.
"Oh ...," ujar Tina.
Aku tidak terlalu fokus mendengarkan penjelasan Tonny. Karena jujur saja, dari tadi sampai sekarang, aku masih merasakan merinding di sekujur tubuh.
"Sebaiknya kita cerita-ceritanya nanti saja, setelah sampai ke pos dua." Aku memotong pembicaraan Tonny dan Tina. Jauh di lubuk hati, sebenarnya aku sudah tidak kuat lagi menahan rasa merinding yang datang menyergap sedari tadi. "Lagipula hari mulai gelap, takut nanti kita kemalaman," sambungku dengan alasan.
Tanpa protes keduanya menyetujui usulanku. Berhubung hujan sudah reda, kami melepaskan kembali jas hujan yang dikenakan. Kemudian melanjutkan pendakian. Masih dengan Formasi yang sama, aku paling belakang, Tina di tengah, sementara Tonny berada di depan selayaknya navigator.
Sepanjang perjalanan aku masih saja merasakan merinding di bagian tengkuk, bahkan telinga terasa memanjang. Medan semakin menanjak, kaki mulai terasah berat untuk melangkah. Mungkin karena ini adalah pendakian pertama, aku merasa sangat kelelahan. Tapi malu rasanya bila aku harus menyerah, masa iya kalah sama Tina.
"Iya Tuhan, kemana Tina dan Tonny," batinku.
Disepanjang perjalanan, kami dibuat berjalan menunduk. Hal itu pula membuat aku tidak sadar jika Tonny dan Tina, sudah tidak adalagi di depanku.
Di depan sana terlihat seperti jalan buntu. Aku berhenti, lalu menoleh ke belakang. Benar, ini adalah trek yang kami lalui. Terlihat jalan setapak dengan tanah padat, bekas pijakan. Tapi kemana Tonny dan Tina.
"Tonny ... Tina ...!" panggilku. Tapi tidak ada jawaban dari keduanya.
Hahahaha ...
"Astaghfirullah ..." aku terkejut tatkala mendengar suara gelak tawa.
Setiap kali aku memanggil Tonny ataupun Tina, gelak tawa itu selalu muncul. Hari yang mulai gelap membuat pandangan semakin terbatas. Aku harus segera melanjutkan perjalanan untuk menyusul Tonny dan Tina.
"Tara ... takut, ya. hahahaha." ujar Tina yang tiba-tiba keluar dari balik pohon, mengagetkanku.
Ternyata jalanan di depan sana berbelok tajam ke arah kanan, memang dari bawah kelihatan seperti jalan buntu.
"Teman nggak ada akhlak! Nggak lucu!" Aku kesal, mereka bercandanya keterlaluan.
"Hahahaha ... tenang kawan, kita hampir sampai ke pos dua," ucap Tonny.
Walau hati masih kesal, tapi setidaknya aku mulai lega mendengar penuturan Tonny yang mengatakan bahwa sedikit lagi kami sampai di pos dua.
Sekitar 15 menit pendakian, terdengar Tonny berteriak kegirangan.
"Matek ayek, pos 2." ( mata air )
Ternyata kami telah sampai di Selter dua. Berhubung hari sudah gelap, apalagi trek dari pos dua ini menuju syahbana lebih berat daripada sebelumnya. Kami akhirnya memutuskan untuk bermalam di sini.
Karena keadaan pos yang hanya beratapkan terpal, dengan bentuk seperti rumah panggung, tanpa dinding dan tidak cukup menampung tiga orang. Akhirnya kami memilih untuk membangun tenda.
Dengan sigap Tina mengeluarkan peralatan untuk memasak, lalu kemudian ia memasak Indomie untuk pengganjal perut. Mungkin karena telah kecapekan, setelah menyantap mie instan, kami pun segera beristirahat.
Aku dan Tonny tidur dalam satu tenda. Sedangkan Tina seorang diri, agar memudahkannya jika memerlukan sesuatu. Kami membuat tenda berdempetan.
Malam pun berlalu dengan damai, walau sesekali aku seolah merasakan ada sesuatu di luar tenda. Tapi melihat Tonny sudah tertidur pulas, aku pun akhirnya terlelap juga.
***
Singkat cerita, keesokan harinya setelah sarapan dan membereskan semua peralatan. Kami melanjutkan kembali pendakian tepat pukul delapan pagi.
Di pos dua ini sinyal masih ada, walau terkadang hilang timbul. Aku pun menyempatkan mengirim pesan pada Bang Roy. Lama menunggu tidak ada jawaban, kami segera mendaki. Mungkin tengah hari, kami akan sudah tiba di Syahbana. Karena setelah pos dua tidak adalagi pos. Yang ada kami akan tiba di dataran luas di puncak gunung Dempo ini. Tapi itu bukan puncak tertinggi, kami harus mendaki lagi sekitar 40 menit, untuk tiba di puncak Merapi Dempo.
Di luar dugaan, dari pos dua menuju Syahbana medannya semakin berat. Kami harus mendaki melalui jalur akar pepohonan yang hampir tidak memiliki tanah. Ditambah lagi sehabis hujan membuat trek ini sangat sulit dilalui. Kami harus berhati-hati jika tidak ingin terpeleset jatuh ke dalam jurang. Beberapa kali Tina hampir terpeleset, beruntung aku dan Tonny selalu sigap.
Trek ini benar-benar membuat kami kelelahan, hingga saat kami mampu melaluinya dan tiba di tempat dataran lapang yang sangat luas, rasa lelah yang hebat membuat kami seperti kehabisan tenaga.
Mungkin dataran luas inilah yang disebut Bang Roy dan Tonny adalah Syahbana. Untuk tiba di lokasi ini kami hampir memakan waktu lima jam. Jalanan akar pepohonan yang sangat licin, membuat kami kelelahan. Hal itu membuat kami sering beristirahat, tanpa terasa pendakian menjadi sangat lambat.
Waktu yang diperkirakan setengah hari sudah sampai di puncak, ternyata meleset jauh.
Apalagi musik keroncong di perut, mulai bernyanyi lagu keroncongan. Tenaga yang terkuras, rasanya kami sudah tidak sanggup lagi jika hari ini harus menggapai puncak Merapi.
"Aku rasa besok saja kita lanjutkan lagi pendakian menuju puncak Merapi. Hari ini stamina benar-benar terkuras habis, walaupun perjalanan menuju puncak Merapi sekitar 40 menit lagi. Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi melanjutkan pendakian," ujar Tonny kepadaku.
"Iya, nih. Aku juga. Lagian perizinan kita kan, dua hari. Aku rasa di pagi hari ketiga, kita sudah tiba di basecamp Brigade," sambung Tina.
"Yasudah, kalau semua sudah sepakat. Besok pagi-pagi sekali kita menuju puncak Merapi. Lalu kemudian kita turun. Mudah-mudahan siangnya kita sudah bisa tiba di basecamp Brigade untuk laporan. Tapi jujur, hawanya mulai dingin. Kayaknya ngopi mantap nih," jawabku sembari main mata pada Tonny.
"Ide bagus! Apalagi yang bikin kopinya Tina," ucap Tonny sembari memberi isyarat yang sama padaku.
"Muantap ...," sambungku sembari mengacungkan jempol.
"Iya ... aku buatin .... nggak usah pakai nyindir-nyindir segala." Tina segera mengeluarkan peralatan masak dari dalam tasnya. Ia kemudian segera memasak air untuk membuat kopi, setelah itu barulah memasak untuk makan siang.
Aku dan Tonny membuatkan tenda. Bercermin dari kejadian di pos dua, kami membuat tenda tapi tidak membuat parit. Alhasil air hujan pun masuk ke dalam tenda. Setelah selesai tenda, kami pun membuat parit. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Setelah selesai memasang tenda. Kopi hitam buatan Tina, sudah tersaji di atas batu yang tadi kami susun menyerupai meja.
Suasana puncak yang dingin, membuat kopi ini semakin nikmat. Apalagi Tonny, dia sampai mengeluarkan suara tatkala menyeruput kopinya. Seperti biasa rasanya kurang afdol, bila meminum kopi hangat tanpa ditemani sebatang rokok. Kepulan asap yang dihisap dengan dalam, lalu di keluarkan secara perlahan, serasa mengikis semua lelah yang ada.
Jam menunjukkan pukul dua siang. Sebenarnya kami masih punya banyak waktu bila ingin mendaki ke puncak Merapi Dempo. Tapi sore ini, kami sengaja berleha-leha untuk memanjakan tubuh yang lelah.
Aroma masakan Tina, mulai menggelitik indera penciuman. Rasanya sudah tidak sabar menunggu panggilan makan darinya.
"Makanan sudah siap. Tio kamu makan duluan saja, aku mau buang air kecil dulu. Tin temani aku dong ...," ujar Tina.
"Nanti saja kita makannya barengan aja," jawabku.
"Duluan aja. Aku tidak mau pipis disekitar sini," ucap Tina lagi sembari menarik tangan Tonny.
"Yasudah kalau begitu, aku duluan." Aku kemudian menghampiri hidangan yang telah tersedia di atas meja batu.
Sementara Tonny menemani Tina ke suatu tempat, walau terbilang lumayan jauh, tapi mereka masih terlihat olehku. Namun setelah 40 menit aku selesai makan, mereka belum juga kembali. Lama menunggu aku mulai khawatir, takut sesuatu terjadi pada mereka.
"Mereka ngapain aja! Buang air kecil, sampai-sampai lama begini," aku menggerutu kesal. Benar kata orang, menunggu memang sesuatu yang membosankan.
Aku mulai bangkit dari singgasana, kemudian menghampiri mereka di tempat yang aku lihat tadi. Tidak ingin dibilang mengintip, aku mencoba memangnya dari kejauhan.
"Tina, kalian sudah belum?" Aku tidak habis pikir, jika memang hanya buang air kecil saja, tidak mungkin memakan waktu hampir 40 menit.
Namun tidak ada jawaban dari Tina ataupun Tonny. Aku mulai cemas, lalu berinisiatif untuk menjumpai keduanya di balik semak yang aku lihat tadi, tapi mereka tidak ada di sana.
"Loh, kok tidak ada!" aku menggerutu.
Syahbana ini sangat luas, dimana aku harus mencari mereka, tentu tidak mungkin bila aku mencarinya di pelataran seluas ini. Lalu aku menghampiri batu yang lumayan tinggi. Aku berdiri tegak di atasnya, berharap dengan cara ini bisa dengan mudah mengetahui keberadaan mereka.
Dari atas ketinggian, mataku seolah melihat sebuah pergerakan di dekat pepohonan di ujung sana.
Aku sangat yakin bahwa mereka berada di baliknya. Tidak ingin memergoki. Aku memanggil nama Tina, sesekali juga memanggil nama Tonny.
Dengan langkah cepat karena kesal ingin marah, aku menghampiri semak bergoyang itu. Namun betapa terkejutnya tatkala melihat Tonny sedang berada di atas tubuh Tina, tanpa sehelai benang yang melekat di tubuh mereka berdua.
"Tonny! Apa yang kamu lakukan!" Keduanya hanya tercengang. Aku marah! Sempat-sempatnya mereka melakukan perbuatan tidak senonoh, di tempat seperti ini.
"Tio, tolong kami." Hanya itu kalimat yang terucap dari bibir Tonny.
YouTube 👉 ( KFF TV ) part 3 sudah rilis, ya. Part terbaru tayang setiap hari di jam 7 pagi.
Follow juga Fanspage saya.
BERSAMBUNG ....

Posting Komentar

0 Komentar

Close Menu